Bandungseru.com – PKL Cicadas Tolak Jalur BRT dengan memasang spanduk protes di sepanjang jalan utama Bandung. Pedagang menuntut kepastian tempat usaha dan menolak proyek tanpa sosialisasi.
Dilansir dari Ayobandung, PKL Cicadas Tolak Jalur BRT kembali menjadi sorotan setelah deretan spanduk protes bermunculan di sepanjang kawasan Cicadas, Kota Bandung. Spanduk berwarna putih dengan tulisan merah menyala itu terpasang di depan lapak pedagang kaki lima, kios, hingga pagar yang menghadap langsung ke jalan utama. Pesan yang disampaikan tegas, para pedagang menolak rencana pembangunan jalur Bus Rapid Transit atau BRT yang dinilai mengancam ruang usaha mereka.
Tulisan dalam spanduk beragam, mulai dari bernada satir hingga pernyataan lugas soal kebutuhan hidup. Salah satu spanduk bahkan menuliskan kalimat, “Kami tidak butuh BRT, kami butuh makan dan kepastian,” dengan mencantumkan identitas PKL Cicadas. Kalimat tersebut mencerminkan kegelisahan pedagang kecil yang hingga kini merasa belum mendapatkan kejelasan dari rencana pembangunan.
Aktivitas Dagang Tetap Jalan di Tengah Kekhawatiran
Meski PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, aktivitas jual beli di kawasan tersebut masih berlangsung normal. Pedagang tetap membuka lapak seperti biasa, sementara pembeli datang silih berganti. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan usaha yang telah menjadi tumpuan hidup selama bertahun-tahun.
Sejumlah pedagang memilih enggan berbicara. Mereka mengaku bingung dan khawatir karena belum pernah menerima sosialisasi resmi dari pihak terkait. Dari pantauan di lapangan, hanya beberapa pedagang yang berani menyampaikan pendapat secara terbuka, sementara lainnya mengaku belum memahami dampak pembangunan jalur BRT terhadap lapak mereka.
PKL Minta Kepastian, Bukan Sekadar Kompensasi
Wakil Ketua PKL Cicadas, Jaja, menegaskan bahwa penolakan ini bukan berarti pedagang anti pembangunan. Menurutnya, PKL Cicadas Tolak Jalur BRT karena hingga kini belum ada penjelasan jelas soal relokasi maupun keberlanjutan usaha mereka.
Ia menyebut, sebagian besar PKL menggantungkan hidup sepenuhnya dari lapak yang ditempati saat ini. Jika lapak tersebut hilang tanpa solusi jangka panjang, dampaknya akan langsung dirasakan pada penghasilan harian. Jaja juga menilai kompensasi uang semata tidak cukup menjamin keberlangsungan hidup pedagang kecil.
Pendataan Mendadak Picu Keresahan
Keresahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan oleh konsultan dan Satpol PP. Tak lama berselang, petugas dari Dinas Perhubungan terlihat mengukur badan jalan dan memasang patok, yang diduga sebagai tanda awal pembangunan jalur BRT.
Langkah tersebut dilakukan di tengah ketiadaan sosialisasi resmi. Para pedagang mengaku belum menerima informasi terkait lokasi relokasi, skema kompensasi, maupun waktu pelaksanaan proyek. Kondisi inilah yang kemudian memicu munculnya spanduk-spanduk penolakan di sepanjang Cicadas.
Dampak Ekonomi Belum Pulih Pascapandemi
Pedagang lain, Sunesi, menyebut kondisi ekonomi PKL belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19. Menurutnya, rencana pembangunan jalur BRT justru menambah beban baru bagi pedagang kecil yang baru mulai bangkit.
Ia berharap pemerintah mau duduk bersama dan melibatkan PKL dalam proses perencanaan. Pedagang, kata dia, bukan ingin menghambat pembangunan, melainkan ingin kepastian agar tetap bisa mencari nafkah.
Harapan PKL di Tengah Proyek Besar Kota
Rencana pembangunan jalur BRT merupakan bagian dari pengembangan transportasi massal perkotaan. Namun bagi para pedagang, PKL Cicadas Tolak Jalur BRT karena proyek tersebut dinilai berpotensi menggerus ruang hidup jika tidak dibarengi solusi yang adil.
Para PKL berharap pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan kelompok kecil yang bergantung pada ruang publik. Mereka ingin dilibatkan dan diberi kepastian agar bisa terus bertahan sebagai bagian dari denyut ekonomi Kota Bandung.
Temukan informasi seru di Bandung, selalu kunjungi website www.bandungseru.com












