Bandungseru.com – Alun-Alun Cicendo di 2026 menunjukkan kondisi memprihatinkan dengan vandalisme, fasilitas rusak, dan suasana yang jauh dari harapan awal pembangunannya.

Alun-Alun Cicendo di 2026 kembali menjadi sorotan publik setelah kondisi terbarunya membuat banyak warga Bandung mengelus dada. Tempat yang dulu jadi kebanggaan kini tampak memprihatinkan. Vandalisme muncul di berbagai sudut, fasilitas rusak tak lagi terurus, sementara bau pesing tercium kuat saat melintas di beberapa area. Banyak besi berkarat terlihat lapuk, membuat ruang publik ini seperti ditinggalkan waktu.

Ketika alun-alun ini diresmikan pada 31 Desember 2017, harapan masyarakat begitu besar. Berdiri di atas lahan seluas 5.400 meter persegi di Jalan Arjuna, Bandung, ruang publik ini digadang sebagai simbol kebangkitan fasilitas kota yang ramah warga. Dirancang oleh SHAU Architects dengan konsep Steel Plaza, desainnya terinspirasi dari sejarah kawasan Cicendo yang dikenal sebagai pusat pandai besi. Sentuhan arsitektur tersebut membuat alun-alun sempat menjadi lokasi favorit warga yang ingin merasakan suasana berbeda di ruang terbuka.
Dulu, fasilitas di dalamnya lengkap. Ada lapangan utama seluas 939 meter persegi yang biasa dipakai untuk berbagai aktivitas komunitas. Mini amfiteater kerap jadi tempat nongkrong anak muda. Lorong ngarai menghadirkan elemen visual yang menarik untuk swafoto. Sebanyak 24 kios pasar seni membuka peluang bagi pelaku UMKM kreatif, sementara ruang hijau memberi keseimbangan bagi warga yang membutuhkan area relaksasi. Visi awalnya jelas: menjadikan Alun-Alun Cicendo sebagai ruang publik fungsional dan estetis yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Namun, waktu berjalan tanpa perawatan yang memadai. Kini, Alun-Alun Cicendo di 2026 tampak kehilangan jiwanya. Cat-catan vandalisme mencoreng dinding dan fasilitas. Beberapa kursi taman patah, kotak listrik terbuka tanpa perbaikan, dan pagar besi mengelupas dimakan karat. Kondisi yang memprihatinkan ini membuat sebagian warga enggan berlama-lama di area tersebut karena merasa tidak nyaman dan tidak aman.

Sejumlah warga yang ditemui di sekitar lokasi berharap pemerintah segera turun tangan. Bagi mereka, Alun-Alun Cicendo punya potensi besar sebagai ruang urban yang inklusif. Jika direvitalisasi, tempat ini bisa kembali menjadi taman keluarga, ruang seni terbuka, pusat UMKM kreatif, atau bahkan kawasan hijau yang ramah anak. Banyak yang mengusulkan agar dilakukan pengawasan rutin, penambahan penerangan, serta peningkatan kualitas kebersihan.
Potret terbaru alun-alun ini memunculkan diskusi panjang di media sosial. Banyak warga Bandung merasa kehilangan karena ruang publik yang dibangun dengan investasi besar itu kini tak lagi mencerminkan visi awalnya. Sebagian warganet juga membandingkannya dengan kondisi awal pembukaan yang penuh harapan. Ada yang mengunggah foto-foto lawas alun-alun saat masih baru dibuka, menunjukkan betapa jauh kondisi saat ini berbeda.
Revitalisasi menjadi harapan yang paling banyak disuarakan. Tidak hanya perbaikan fisik, tetapi juga pengelolaan yang lebih berkelanjutan agar ruang publik ini benar-benar hidup dan bermanfaat. Pemerintah Kota Bandung sebelumnya pernah melakukan revitalisasi di beberapa taman, sehingga harapan serupa di Alun-Alun Cicendo dinilai bukan hal mustahil. Warga menantikan langkah nyata agar fasilitas yang sudah ada tidak semakin rusak dan bisa dipakai dengan nyaman.
Bagi warga Bandung yang ingin mengetahui perkembangan terbaru mengenai ruang publik atau kebijakan tata kota, informasi lanjutan bisa ditemukan melalui halaman khusus di situs ini. (Bandung Seru)
Harapan besar masih tersimpan di banyak hati warga: Alun-Alun Cicendo kembali menjadi ruang yang aman, bersih, dan layak untuk semua. Ruang publik adalah wajah kota. Ketika wajah itu tampak muram, warganya ikut merasakan. Tetapi ketika ruang tersebut dirawat, fungsional, dan hidup, kota akan terasa lebih manusiawi.
Temukan informasi seru di Bandung, selalu kunjungi website www.bandungseru.com












